Tantangan dan Peluang Pembelajaran Abad-21 di Indonesia

Tomi Apra Santosa, M.Pd, Dosen Akademi Teknik Adikarya Kerinci, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ATAK Kerinci Penulis Buku, Editor, Reviewer Jurnal Nasional dan Internasional.

Pembelajaran di Indonesia menghadapi sejumlah tantangan di era abad ke-21. Salah satu tantangan utama adalah kesenjangan akses pendidikan antara daerah perkotaan dan pedesaan. Meskipun kemajuan teknologi informasi, sebagian besar penduduk di pedesaan masih menghadapi keterbatasan dalam mengakses sumber daya pembelajaran digital. Selain itu, perubahan cepat dalam dunia teknologi dan ekonomi global menuntut adanya penyesuaian dalam kurikulum pendidikan. Pendidikan abad ke-21 harus mampu mengembangkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja, seperti keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan literasi digital. Peluang untuk pembelajaran abad ke-21 di Indonesia terletak pada potensi penggunaan teknologi untuk memperluas akses dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Penerapan teknologi pendidikan, seperti pembelajaran daring dan platform pembelajaran digital, dapat menjadi solusi untuk mengatasi hambatan geografis dan meningkatkan kualitas pendidikan di seluruh negeri.

Pembelajaran abad-21 menuntut adanya perubahan pendidikan yang berorientasi pada keterampilan abad-21 seperti berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi. Menurut Trilling & Fadel (2009), tantangan terbesar Indonesia dalam menerapkan pembelajaran abad-21 adalah mengubah pola pikir dan budaya pendidikan yang selama ini terlalu berfokus pada hafalan dan ujian. Diperlukan inovasi kurikulum dan metode pembelajaran untuk mengembangkan keterampilan abad-21 pada peserta didik. Selain itu, minimnya akses internet dan teknologi di sekolah-sekolah Indonesia juga menjadi hambatan signifikan. Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2017) menunjukkan baru 30% sekolah di Indonesia yang memiliki fasilitas internet. Padahal, pemanfaatan teknologi sangat dibutuhkan untuk mendukung pembelajaran abad-21. Ketimpangan akses antara perkotaan dan pedesaan juga menjadi isu yang harus diatasi.

Di sisi lain, bonus demografi Indonesia dapat menjadi peluang untuk mempercepat implementasi pembelajaran abad-21. Diperkirakan pada 2030, Indonesia akan memiliki angkatan kerja usia produktif hingga 191 juta orang (OECD, 2016). Dengan mempersiapkan generasi ini melalui pembelajaran abad-21, Indonesia berpeluang menjadi kekuatan ekonomi global. Namun tantangannya adalah menjamin kualitas pendidikan di seluruh penjuru nusantara. Upaya nyata pemerintah dalam mensukseskan pembelajaran abad-21 antara lain pengembangan Kurikulum 2013 yang menitikberatkan HOTS (High Order Thinking Skills), literasi digital, serta penguatan karakter. Akan tetapi, implementasinya memerlukan dukungan sarana, sumber daya pengajar, serta komitmen bersama dari berbagai elemen pendidikan di Indonesia (Kemendikbud, 2021). Dengan tantangan dan peluang yang ada, pembelajaran abad-21 tetap harus didorong agar generasi penerus bangsa siap bersaing dan berkontribusi optimal di era global. Diperlukan langkah-langkah progresif dan terukur dari berbagai pihak, khususnya pemerintah dan institusi pendidikan, demi mewujudkan transformasi pendidikan di Indonesia.

Selanjutnya, kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil dapat menciptakan kerangka kerja yang mendukung inovasi dalam pendidikan. Program kemitraan yang melibatkan berbagai pihak dapat membantu menciptakan solusi yang holistik dan berkelanjutan untuk meningkatkan pembelajaran di Indonesia. Dalam menghadapi dinamika global, penting bagi sistem pendidikan Indonesia untuk terus beradaptasi dan memperkuat kurikulum yang mengintegrasikan nilai-nilai lokal dan global. Dengan demikian, pembelajaran abad ke-21 di Indonesia dapat menjadi motor penggerak bagi kemajuan sosial dan ekonomi melalui pengembangan sumber daya manusia yang unggul.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian